‎YOGYAKARTA, Harianjateng.com – Nuansa akademik yang khidmat menyelimuti Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Kamis, 26 Juni 2025. Sutinah, seorang guru SDN Sindangsari Kota Cimahi, Jawa Barat, resmi menyandang gelar Doktor dalam bidang Pendidikan Dasar setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan Dewan Penguji.

‎Dalam ujian tersebut, hadir Dr. Iis Prasetyo, M.M. (Ketua/Penguji), Dr. Herwin, M.Pd. (Sekretaris/Penguji), Prof. Dr. Anik Ghufron, M.Pd. (Promotor/Penguji), Dr. Sujarwo, M.Pd. (Kopromotor/Penguji), Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd. (Penguji), dan Prof. Dr. Wuri Wuryandani, M.Pd. (Penguji).

‎Sidang terbuka yang berlangsung dinamis tersebut menghadirkan penguji utama Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., yang merupakan Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Kehadiran beliau bersama jajaran dewan penguji lainnya mempertegas bobot ilmiah serta relevansi praktis dari riset yang diangkat oleh promovenda.

‎Dalam ujian doktoral tersebut, Sutinah memaparkan penelitian mendalamnya yang berjudul “Pendidikan Multikultural di Sekolah Dasar Kampung Adat Sunda Cirendeu”. Riset ini dinilai memberikan kontribusi kebaruan yang segar bagi arah pengembangan kurikulum dan pedagogi di sekolah dasar, khususnya di tengah realitas kemajemukan bangsa Indonesia.

‎Dalam paparannya, Sutinah menegaskan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat keragaman terbesar di dunia memerlukan pengelolaan multikulturalisme sejak dini. Sekolah dasar menjadi fase krusial untuk menanamkan kesadaran tersebut agar berdampak fungsional pada peningkatan kemampuan akademik maupun sosial siswa.

‎Keterbukaan terhadap multikulturalisme yang berkelindan dengan kuatnya akar pelestarian budaya di kampung adat diyakini memberikan warna baru dalam dunia pendidikan. Kampung Adat Sunda Cirendeu di Kota Cimahi menawarkan nilai dan pengetahuan yang sangat kaya dalam mengonstruksi pendidikan multikultural yang organik. Menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus eksplanatori, Sutinah menggali data secara mendalam melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi di SD Negeri Cirendeu, Kota Cimahi. Subjek penelitiannya melibatkan seluruh warga sekolah yang berada langsung di kawasan kampung adat urban tersebut.

‎Riset doktoral Sutinah menghasilkan beberapa temuan fundamental yang menjadi pilar pola pendidikan multikultural di sekolah dasar. Temuan pertama berhasil menggali nilai-nilai dasar dari Kampung Adat Cirendeu yang meliputi nilai kebangsaan, kemanusiaan, toleransi, serta falsafah hidup silih asah, silih asih, dan silih asuh. Nilai-nilai ini terbukti saling bertaut dengan visi pendidikan dasar dan berhasil ditransformasikan menjadi sumber belajar yang kontekstual bagi siswa.

‎Selanjutnya, penelitian ini merekonstruksi pemahaman pendidikan multikultural di sekolah dasar agar tidak lagi sekadar menjadi teori, melainkan dimulai dari internalisasi keragaman sebagai sebuah kesadaran, kekayaan, sinergi, dan bentuk pelayanan. Perbedaan di lingkungan sekolah dipandang sebagai aset komunal untuk saling belajar.

‎Dalam hal implementasi nyata, sekolah dasar tersebut menerapkan pendidikan multikultural melalui tiga jalur utama, yaitu pembiasaan untuk mengenalkan keragaman secara natural, pembelajaran untuk merasakan pengalaman belajar yang terintegrasi multikulturalisme, dan pembudayaan untuk mendorong siswa menjadi pelaku aktif toleransi.

‎Melalui integrasi tersebut, pola pendidikan di SD Negeri Cirendeu berhasil membawa pengembangan program baru dan model pemberdayaan yang melibatkan seluruh elemen sekolah serta masyarakat adat sekitar.

‎Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., selaku penguji utama, memberikan apresiasi tinggi terhadap ketajaman analisis dan metodologi yang diterapkan oleh Sutinah. Menurutnya, temuan mengenai falsafah
‎silih asah, silih asih, silih asuh yang diintegrasikan dalam pendidikan formal di wilayah perkotaan merupakan jawaban nyata atas tantangan degradasi moral dan disintegrasi sosial saat ini.

‎Implikasi teoretis dan praktis dari disertasi Dr. Sutinah ini diharapkan dapat diadopsi oleh para pemangku kebijakan pendidikan, kepala sekolah, serta guru-guru di Indonesia dalam merancang program penguatan profil pelajar yang toleran dan inklusif.

‎Dengan raihan gelar Doktor Pendidikan Dasar dari UNY ini, Dr. Sutinah kini siap kembali berkontribusi ke dunia pendidikan untuk mengaplikasikan model pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal demi masa depan generasi emas Indonesia. Sutinah dinyatakan lulus sebagai Doktor Pendidikan Dasar UNY dengan predikat Cumlaude dengan IPK 3.85. Dalam studinya, Sutinah dapat menyelesaikan perkuliahan dengan mendapatkan Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI). (*)