Kendal, Harianjateng.com- Menyikapi krisis abrasi yang kian mengkhawatirkan di sepanjang garis Pantai Utara (Pantura), koalisi organisasi pemuda, mahasiswa, dan komunitas lingkungan di Kendal menggelar diskusi publik merdekologi dan nonton bareng film agama jaga bumi, Rabu (18/8/2026) di Pondok Pesantren Pring Jagad Kelurahan Sukodono, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Aacara yang mengangkat tema “Merusak Alam Adalah Merusak Kemanusiaan” ini dihadiri oleh pembina Gusdurian Kendal Gus Muhammad Ilyas pengasuh Pondok Pring Jagad dan Pendeta Tri Atmojo.

Acara diikuti oleh Gusdurian Semarang, Gusdurian Kendal, IPNU, IPPNU, PMII, HMI, Kompass Smanik, BEM Kendal, santri PP Pring Jagad, GKJ Kendal, Kendal Book Circle (KBC), Lingkaran Prolektariat, Pemuda Gempolsewu, serta elemen penggerak lingkungan lainnya.

Disampaikan oleh Koordinator Gusdurian Kendal, Abdullah Jindan selaku panitia acara, bahwa acara ini digelar untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) Gus Dur di tahun 2026 dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Jindan menyampaikan, diskusi interaktif ini menyoroti hantaman abrasi pantura sebagai ancaman nyata ruang hidup warga yang mengikis daratan, pemukiman, dan tambak. Gerakan ekologi ini mendapatkan legitimasi moral yang kuat melalui pandangan para tokoh lintas agama yang hadir.

Gus Muhammad Ilyas, selaku pengasuh PP Pring Jagad mengungkapkan, bahwa beberapa waktu lalu kalangan ulama Nahdlatul Ulama Kendal telah menggelar Bahtsul Masa’il khusus untuk membahas isu ekologi.

“Isu Ekologi beberapa waktu lalu menjadi pembahasan khusus oleh ulama Nahdlatul Ulama Kendal, sehingga masyarakat akar rumput wajib mendukung penuh langkah strategis yang dilakukan oleh organisasi keagamaan tersebut,” tutur Gus Muhammad Ilyas.

Pendeta Tri Atmojo menambahkan, bahwa seorang agamawan memiliki kewajiban untuk menyerukan suara kenabian, salah satunya dengan menjaga bumi. Menurutnya, seluruh ajaran agama tanpa terkecuali mengamanatkan bahwa bumi harus dijaga dan dilestarikan.

Pada forum diskusi ini juga diisi pemutaran film dokumenter yang menyoroti krisis ekologi, dengan ruang dialektika yang menghadirkan berbagai pandangan kritis serta solusi konkret dari para tokoh pemuda lintas organisasi.

Dalam kesempatan itu, Ibnu Ghifari perwakilan Gusdurian Semarang menyoroti penyusutan garis pantai tahunan di sepanjang Pantura yang kian diperparah sebagai dampak Proyek Strategis Nasional (PSN).

Ia menekankan pentingnya memulai gerakan penanggulangan terstruktur yang berbasis pada riset mendalam.

Terkait kondisi lokal, Mas Nasikun warga pesisir Rowosari mengkritik pemerintah yang belum secara optimal dalam perawatan ekologi tanaman pesisir.

“Saya mengusulkan kepada pemerintah untuk segera membuat rekayasa ekologi di kawasan pesisir, sehingga nantinya bibit tanaman yang ditanam bisa tumbuh optimal,” ujar Nasikun.

Sementara itu, peserta acara Bung Anam dan Bung Ruri menyerukan penguatan peran individu maupun kelompok yang konsisten dalam gerakan advokasi. Penyampaian tersebut didukung oleh Mas Ibad dari HMI yang menyoroti adanya kurangnya kesadaran tanggung jawab dalam merawat ekologi.

Di sisi kultural, Mbak Ema mengingatkan bahwa manusia adalah penyebab sekaligus korban utama kerusakan alam. Ia mengajak masyarakat membudayakan penggunaan barang ramah lingkungan seperti tumbler dan wadah makanan.

Langkah ini diperkuat oleh Mas Heri selaku peserta dalam acara tersebut. Ia mengungkapkan bahwa menjaga lingkungan mulai dari rumah tangga, terutama pengelolaan atau pemilahan sampah mulai dari skala rumah tangga.

Merdekologi merupakan forum kolaboratif berkala yang diinisiasi oleh jaringan Gusdurian Kendal bersama organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan komunitas lokal di Kabupaten Kendal.

Terinspirasi oleh pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, forum ini bergerak sebagai ruang edukasi, diskusi, dan konsolidasi gerakan sosial-ekologi demi kelestarian lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Red-HJ99/KM