Ingin Publikasi Scopus, Hamidulloh Ibda Tawarkan Teori DADIAPIC

0
123

Temanggung, Harianjateng.com- Biro Akademik dan Kemahasiswaan Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung menggelar Webinar Publikasi Internasional bertajuk “Menjadi Akademisi Global melalui Publikasi Internasional” pada Selasa (2/3/2024).

Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari unsur mahasiswa, dosen, alumni, dan umum dengan menghadirkan dua narasumber, yaitu dosen INISNU Temanggung, Reviewer pada 19 Jurnal Internasional Terindeks Scopus Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., dan PhD., Candidate in Applied Linguistics, Massey University New Zealand Nailul Author Restu Pamungkas.

Dalam sambutannya, Rektor INISNU Temanggung Dr. H. Muh. Baehaqi mengatakan bahwa publikasi artikel ilmiah di jurnal internasional sangat banyak sekali manfaatnya bagi akademisi. “Publikasi internasional menjadi sarana komunikasi antarmasyarakat luas, terutama di ranah global. Kalau kita publikasi ya sebagai bukti kita sebagai akademisi yang melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat untuk menjawab problem di masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan itu, disampaikan pula roadmap dan program penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi INISNU Temanggung yang disampaikan Wakil Rektor III Moh. Syafi’.

Dalam Webinar Publikasi Internasional, Wakil Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menyampaikan materi “Strategi Publikasi Ilmiah di Jurnal Internasional Bereputasi Terindeks Scopus”. Dalam kesempatan itu, pihaknya menyampaikan banyak hal tentang materi strategi publikasi.

Dalam bedah struktur naskah, Ibda yang juga reviewer internasional pada 19 jurnal internasional terindeks Scopus mengatakan bahwa secara umum, struktur artikel adalah IMRAD. “Structur naskah artikel secara umum mengacu author guidelines, pedoman penulisan, atau kaidah selingkung ya Introduction, Methods, Results, and Discussion (IMRAD). Tapi ini bisa berkembang, dan saya juga mengembangkan konsep sendiri,” kata dia.

Ia mengatakan banyak pakar mengembangkan teori penulisan ilmiah seperti Prof. Irwan Abdullah mengembangkan strategi CCTE dan teknik PREC. Sementara menurut Dr. Lu’luil Maknun, et.al (2021) juga membeberkan metode LATANSA dalam menulis artikel ilmiah, yaitu L: Literature Research, A : Abstract, T: Thesis, A : All References, N : Need Editing, S : Submit, A : Announcement of LOA.

Selain mereka berdua, kata Ibda, saya juga mengembangkan teori atau konsep sendiri, yaitu DADIAPIC. Metode atau stategi DADIAPIC ini merupakan akronim dari Data (masalah akademik), Dialog (fenomena GAP/teori GAP/literatur GAP), Analysis (analisis kebaruan), Purpose (tujuan/pertanyaan riset), dan Conclusion (simpulan akhir dari urgensi riset).

“Jadi di dalam struktur umum, ada title atau judul. Lalu ada instroducion dan method, di sinilah kita masukkan unsur Data dan Dialog. Kemudian results and discussion kita masukkan Analysis dan Purpose. Terakhir conclusion dan references,” kata dia.

Ini merupakan bentuk tanggungjawab keilmuan yang saya pikul, katanya, jadi strategi DADIAPIC ini sudah saya diseminasikan pada Webinar Nasional bertajuk “Strategi Publikasi Ilmiah Bidang Pendidikan Dasar di Jurnal Internasional Bereputasi” yang digelar Perkumpulan Dosen PGMI Indonesia Wilayah VIII Jawa Tengah – DIY pada Senin 26 Februari 2024 secara daring lalu. “Hari ini saya diseminasikan lagi di forum ini,” kata dia.

Hadir narasumber kedua, PhD., Candidate in Applied Linguistics, Massey University New Zealand, Nailul Author Restu Pamungkas, yang berbagi pengalamannya dalam academic writing dan penerjemahan naskah ke dalam bahasa asing.

Academi writing menurut Nailul, berangkat dari ide yang menarik. “Ide biasanya disusun dalam tatanan atau struktur formal. Gagasan didukung oleh referensi dari literatur akademis. Berbeda dengan tulisan pribadi, tulisan akademis berbeda karena membahas teori dan penyebab suatu topik tertentu, serta menggali alternatif penjelasan atas teori atau peristiwa tersebut,” kata dia.

Penulisan akademis, lanjutnya, mengikuti corak tertentu, yaitu menggunakan bahasa yang ringkas, formal, dan obyektif. “Penulisan akademis juga menganut konvensi tradisional tanda baca, tata bahasa, dan ejaan,” paparnya secara langsung dari New Zealand.

Pihaknya membeberkan banyak tips dan trik dalam menulis akademik beserta penerjemahannya. “Berkaitan dengan penggunaan subjek dan predikat yang tepat dalam Bahasa Indonesia, pastikan dalam penulisan Bahasa Indonesia, subjek dan predikat digunakan dengan tepat untuk memastikan kejelasan dan keterbacaan kalimat. Subjek dan predikat yang sesuai akan membantu pembaca memahami hubungan antara unsur-unsur dalam kalimat dengan lebih baik,” paparnya.

Acara yang dimoderatori Muhammad Fadloli Al Hakim, S.Pd., M.Or pengelola Jurnal INISNU Temanggung tersebut diikuti ratusan peserta dari unsur mahasiswa, dosen, guru, praktisi dan akademisi dari dalam dan luar negeri.

Red-HJ99/HI