Pensil Patah yang Tidak Mau Menyerah

Laporan Editor
Senin, 07 Juli 2025, 23:05:09 WIB
Pensil Patah yang Tidak Mau Menyerah
Pensil Patah yang Tidak Mau Menyerah



Oleh : Fitria Agustin Indah Yulianti

Di dalam kotak pensil Fika, ada sebuah pensil bernama Piko. Piko dulunya adalah pensil yang paling panjang dan tampan di antara alat tulis lainnya. Ia selalu dipilih Fika untuk mengerjakan tugas-tugas penting karena tulisannya yang rapi dan gelap.

Suatu hari, ketika Fika sedang mengerjakan ujian matematika, Piko terjatuh dari meja dan ujungnya patah. Fika dengan cepat mengambil penghapus dan rautan untuk memperbaiki Piko. Setelah diraut, Piko menjadi lebih pendek dari sebelumnya.

“Aduh, aku jadi pendek sekali,” keluh Piko sedih. “Fika pasti tidak akan memakaiaku lagi. Lihat Pensil Mekanik, ia tidak pernah perlu diraut dan selalu siap digunakan. Aku sudah tidak berguna lagi.”
Penggaris yang bijak mendengar keluhan Piko dan berkata, “Piko, kamu masih bisa menulis dengan baik. Panjang atau pendek bukan masalah, yang penting adalah kegunaanmu.”

Tapi Piko tidak percaya. Ia merasa minder dan bersembunyi di sudut kotak pensil. Keesokan harinya, Fika mencari-cari Piko karena ia membutuhkan pensil yang bagus untuk menggambar. Pensil Mekanik terlalu tipis, pensil warna terlalu tebal, dan pensil yang lain ujungnya terlalu keras.

“Dimana ya Piko?” tanya Fika sambil mengaduk-aduk kotak pensil. Akhirnya Fika menemukan Piko yang bersembunyi di sudut. “Nah, ini dia pensil favoritku!”
Piko terkejut. “Tapi aku sudah pendek, Fika. Apa aku masih berguna?”
“Tentu saja!” jawab Fika sambil tersenyum. “Justru karena kamu pendek, aku lebih mudah mengontrolmu untuk menggambar detail. Ukuranmu yang pas membuat tanganku tidak cepat lelah.”

Dengan semangat baru, Piko membantu Fika menggambar sebuah lukisan yang sangat indah. Gambar itu bahkan menjadi juara dalam lomba seni di sekolah. Piko merasa sangat bangga dan bahagia.
“Terima kasih, Fika, karena masih mau memakaiaku meskipun aku sudah pendek,” kata Piko dengan haru.
“Sama-sama, Piko. Ingatlah bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh penampilannya, tapi oleh kegunaannya. Kamu tetap pensil yang luar biasa!” jawab Fika.

Sejak hari itu, Piko tidak pernah lagi merasa minder dengan ukurannya. Ia bangga menjadi pensil yang bermanfaat, apapun bentuk dan ukurannya. Piko belajar bahwa setiap orang memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing, dan yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakan kemampuan yang kita miliki untuk membantu orang lain.