Satu Halaman yang Tak Pernah Kubalik

Laporan Editor
Senin, 07 Juli 2025, 23:15:00 WIB
Satu Halaman yang Tak Pernah Kubalik
Satu Halaman yang Tak Pernah Kubalik



Oleh : Indah Kurnia Sari

Hujan turun pelan, mengetuk-ngetuk jendela kamar seperti seseorang yang rindu pulang. Di pangkuanku, sebuah buku lusuh terbuka pada halaman yang sama sejak tiga tahun lalu. Tinta di sudutnya mulai pudar, tapi aku hafal kalimat terakhirnya: “Kadang, yang paling kita jaga justru adalah yang tak pernah kita miliki sepenuhnya.”

Namanya Ara. Ia datang di semester pertama, duduk dua bangku di depanku dengan rambut dikuncir rendah dan suara yang selalu terdengar pelan, seperti takut mengganggu udara. Kami tidak bertukar sapa di minggu-minggu awal. Tapi entah bagaimana, semesta selalu punya cara membuat yang seharusnya jauh, menjadi dekat.

Sore itu, aku melihatnya menangis diam-diam di pojok perpustakaan. Buku puisi Chairil Anwar terbuka di tangannya. Aku menawarkan tisu, dan sejak saat itu, kami mulai berbagi senyap. Ara bukan tipe yang banyak bercerita, tapi ia sering menuliskan pikirannya di halaman-halaman kecil, seperti buku yang sekarang ada di pangkuanku.

Kami tidak pernah mengucap kata cinta. Hanya ada tulisan, pandangan yang tertahan, dan diam yang terasa penuh. Di antara banyak halaman yang pernah ia beri untukku, hanya satu yang tak pernah kubalik. Di sanalah ia menulis:

“Kalau suatu hari aku pergi tanpa pamit, tolong jangan tunggu. Tapi jika kau masih membuka buku ini dan belum juga membalik halaman ini, mungkin kau tahu: aku pun mencintaimu.”

Ara pergi tiga tahun lalu. Tidak ada perpisahan, hanya kabar dari seorang teman: ia pindah kota, ikut ibunya yang harus dinas ke luar negeri. Tidak ada pesan, tidak ada pelukan. Hanya sunyi yang menggantung di ruang yang dulu sering kami isi bersama.

Aku tahu, satu halaman itu menyimpan jawabannya. Tapi aku terlalu takut membaliknya. Takut jika kata-kata di baliknya hanya ucapan selamat tinggal. Atau lebih buruk—kosong.

Kini, hujan masih mengetuk. Aku menarik napas panjang, mengelus halaman terakhir yang sudah retak di pinggirnya. Lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku membaliknya.

Tulisan tangannya masih rapi:

“Kalau kau membaca ini, berarti kau sudah cukup berani untuk tahu: aku pun menunggumu, dari jauh. Dan jika semesta berbaik hati, mungkin kita akan bertemu lagi—bukan sebagai teka-teki, tapi sebagai dua hati yang akhirnya mengerti.”

Aku menutup bukunya pelan. Di luar, hujan mulai reda. Mungkin, musim telah berganti.