Silaturahmi di Semarang, Kepala BNPT Sebut Perempuan dan Anak Rentan Terpapar Radikalisme

0
145

Semarang, Harianjateng.com- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) Komjen Pol. Prof. Dr. H. Mohammed Rycko Amelza Dahniel, M.Si., mengatakan bahwa tren penyebaran ideologi radikalisme dan terorisme kini menyasar kepada perempuan, anak dan remaja. Hal itu diungkapkan dalam kegiatan Silaturahmi Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, Duta Damai, dan Duta Damai Santri Jawa Tengah pada Selasa (6/2/2024) di Hotel Tantrem Semarang, Jawa Tengah

 

Tren saat ini bergeser kepada perempuan, anak dan remaja. “Maka Kabid Perempuan dan Anak ini sangat penting berperan. Mereka disebar doktrin radikal dan lebih intoleran pasif sampai ada yang terpapar,” kata Kepala BNPT RI tersebut.

 

Pihaknya mengatakan bahwa kerja-kerja yang dilakukan BNPT, FKPT, Duta Damai, Duta Damai Santri adalah pekerjaan mulia karena menjaga keutuhan negara dan martabat manusia. “Tidak ada satupun agama di dunia mengajarkan kekerasan. Jika ada itu bukan agama, melainkan oknum ideolog yang mendoktrin. Saya banyak ketemu eks napiter menyesal karena mereka tertipu, karena tidak ketemu bidadari setelah menyalahkan orang lain, menghalalkan darah sehingga mereka melakukan bom bunuh diri,” katanya.

 

Prof. Rycko juga berpesan dengan mengutip pendapat Malala Yousafzai penerima Nobel Perdamaian Dunia tahun 2014. “Kita bisa melawan teroris dengan senjata, tapi ini bukan tugas kita tapi urusan Densus dan Polri. Kita bisa melawan terorisme melalui ilmu pengetahuan,” katanya.

 

Pihaknya juga menyebut, di tengah konflik dunia termasuk di Gaza, kondisi Indonesia selama 2023 aman dan damai. “Kita di tahun 2023 zero tindakan. Tapi kita harus waspada,” pesannya.

 

Dalam kesempatan itu, selain silaturahmi, tanya jawab, bertukar pengalaman juga bertukar informasi untuk melakukan pencegahan terorisme. FKPT, Duta Damai dan Duta Damai Santri menjadi tangan panjang BNPT untuk melakukan daya tangkal, daya perlawanan, dan daya cegah terhadap faham-faham radikal yang mengarah kepada radikalisme dan terorisme.

 

Sementara itu, Ketua FKPT Jawa Tengah Prof. Dr. Syamsul Ma’arif dalam laporannya, menyampaikan capaian, peran dan kiprah yang sudah terlaksana. Pihaknya juga menyebut bahwa potensi radikalisme di Jawa Tengah cukup tinggi. “Jawa Tengah itu adalah dapurnya teroris. Radikalisasi dan reproduksi pemikiran ekstremis (meraciknya) di sini, tapi ngebomnya tidak di sini. Maka berbagai pendekatan kita lakukan dengan melibatkan kerja-kerja pentahelix dengan semua lapisan masyarakat. Menekankan pendekatan humanis, penyadaran, dan tidak frontal,” katanya.

 

Pencegahan terorisme menurut Dekan FPK UIN Walisongo itu terbagi atas tiga tahapan yaitu, reduksi, ideologisasi dan rasionalisasi. “Ada tiga tahapan dalam mencegah terorisme, yaitu tahap reduksi, ideologisasi, dan rasionalisasi. Reduksi radikalisme ini bisa dilakukan dengan mengeksplorasi local wisdom. Misalkan kekuatan kohesi sosial melalui budaya tahlilan ya harus mensuport pentingnya tahlilan, dan mempertimbangkan keanekaragaman budaya di masyarakat,” katanya.

 

Pencegahan terorisme berbasis kebudayaan, rasionalisasi dengan penguatan literasi, dan ideologisasi dengan menyuntikkan imun nasionalisme telah kita lakukan. Hal ini sangat efektif sebagaimana hasil riset, lanjutnya. Sekaligus lebih bisa diterima masyarakat daripada menggunakan pendekatan formal yang terkesan kaku. Apalagi kalau menyertakan lembaga yang terdapat tulisan “terorisme”, sebagaimana para enumerator ketika terjun di lapangan. Banyak masyarakat, ketika akan diwawancarai, sudah takut duluan. Padahal lembaga FKPT/BNPT ini, yang berupaya mencegah dan menyelamatkan mereka dari paparan ideologi radikal teroris.

 

Selain Kepala BNPT dan rombongan, hadir juga jajaran pengurus FKPT Jawa Tengah, Duta Damai dan Duta Damai Santri Jawa Tengah.

Red-HJ99/Ibda