HMI: Senjakala Atau Fajar Baru?
Kamis, 05 Februari 2026, 14:30:03 WIB
Tajus Syarofi
Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Jakarta
Pensiunan Ketua Badko HMI Jateng-Diy
Tepat 5 Februari 2026, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap memasuki usia 79 tahun. Baginya, usia bukan sekedar angka, melainkan tumpukan sejarah perjuangan dengan segala tantanganya, bukan tentang berapa lama ia berdiri melainkan berapa lama lagi ia bisa bertahan.
Sejak didirikan pada 1947, HMI telah menjadi kawah candradimuka yang melahirkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Namun harus diakui, HMI sering kali terjebak dalam romantisme sejarah masa lalu. Kebanggaan terhadap tokoh-tokoh besar seperti Lafran Pane –pendiri sekaligus Pahlawan nasional, Nurcholis Madjid (Cak Nur), Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Jimly Assiddiqi, justru menjadi penghambat perjuangan dan tradisi intelektualnya.
Sikap mental “jumawa” dan merasa besar, menjadi penyakit yang perlahan menggerogoti proses kaderisasi yang dijalani oleh para pendahulunya –termasuk alumni muda yang sekarang menduduki jabatan strategis seperti Bahlil Lahadalia (Menteri ESDM), Yusril Ihza Mahendra (Menko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan), Wihaji (Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN), Maman Abdurrahman (Menteri UMKM), Riza Patria (Wamen Desa & Pembangunan Daerah Tertinggal) Rifqi Nizami Karsayuda (Ketua Komisi II DPR RI), Ahmad Doli Kurnia (Badan Legislasi DPR RI), Dedy Mulyadi (Gubernur Jawa Barat), dan masih banyak tokoh muda lainya.
Di era digital yang serba cepat, HMI tidak boleh terjebak dengan sejarah “internal fixation”, di mana organisasi terlalu fokus pada kejayaan masa lalu sehingga gagal dalam melihat tantangan dan peluang di masa depan. Pertanyaanya, apakah HMI masih menjadi harapan masyarakat Indonesia, atau usang dimakan zaman?
Sekarang HMI tidak boleh lagi hanya berdialektika melawan isu politik semata, melainkan melawan hukum alam organisasi “entropi”. Ludwig Von Bertalanffy (2003), dalam bukunya General Systems Theory, mengatakan bahwa setiap sistem yang hidup cenderung mengalami pergerakan menuju “kekacauan” dan “kepunahan” jika ia berhenti menyerap energi dan informasi baru dari lingkungannya.
Bertalanffy menekankan bahwa organisasi yang sehat adalah sebuah sistem yang terbuka.
Keberlangsungan HMI sangat bergantung pada kemampuan kader-kadernya melakukan pertukaran dinamika lingkungan luar –menyerap aspirasi mahasiswa “input”, mengolahnya melalui kaderisasi dan menghasilkan pemimpin yang solutif bagi bangsa “output”.
NDP Vs Digital Algorithmic
Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang dirumuskan oleh Cak Nur pada tahun 1969 adalah penjabaran spirit Islam komprehensif yang mencakup formulasi iman, ilmu, dan amal. Sebagai landasan etis-normatif dan menjadi kompas moral-ideologi, Ia juga menegaskan keseimbangan antara hubungan vertikal dan horizontal. Di tengah bisingnya jagat digital yang tidak ada batas moral sekarang ini, HMI tidak boleh menjadi pengikut arus algoritma digital. Karena tanpa disadari seringkali ia bekerja seperti mesin yang mempercepat polarisasi tanpa adanya ruang diskursus ilmu pengetahuan dan moral.
Seperti diketahui bersama, algoritma digital dirancang untuk memaksimalkan durasi pengguna platform dengan menyodorkan konten yang selaras dengan prefesni pengguna, akibatnya seseorang tidak lagi mencari kebenaran, justru mengonsumsi informasi hoaks secara terus menerus. Eli Pariser: seorang pakar media, dalam bukunya The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You (2011), dan Cass Sunstein dalam bukunya Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media, keduanya menjelaskan bahwa bahaya polarisasi dan algoritma digital berada pada terciptanya filter bubble dan echo chamber yang mengikat pengguna dalam satu pandangan. Pada giliranya, ia akan memicu konflik sosial, mengikis toleransi, menurunkan daya pikir kritis, dan mengancam demokrasi.
Di era inilah kader HMI tidak bisa hanya memahami NDP secara tekstual yang kaku, tetapi harus memahami bagaimana algoritma mengontrol semua arus informasi di media sosial. Untuk menjawab tantangan tersebut, perlu ada “System Upgrade” yang konkret. Pertama, Algorithmic Counter-Narrative. HMI harus berhenti menjadi konsumen algoritma pasif, ia harus menjadi pemain depan dengan membentuk unit Cyber-Intelektual di semua tingkat kepengurusan. Tugasnya bukan untuk menjadi “buzzer” politik, melainkan memproduksi konten narasi moderat yang berbasis pada nilai dasar perjuanganya, dan meningkatkan penggunaan media sosial agar narasi intelektual HMI muncul di pencarian teratas: memecah echo chambers yang radikal dan cenderung minim data.
Kedua, meningkatkan tradisi literasi digital dengan memasukkan kurikulum berbasis analisis data dan logika algoritma ke dalam materi training, sehingga ia mampu membedakan mana aspirasi rakyat yang organik dan mana manipulasi opini. Dengan demikian, kader HMI menjadi “pakar verifikasi” yang menyajikan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Ketiga, membangun ekosistem organisasi yang kuat, baik kemandirian ekonomi maupun pemikir “the think-tank”. Artinya, pengurus HMI harus melakukan kolaborasi dan elaborasi dalam menjalankan rumusan kebijakan dalam melatih kader menjadi entrepreneur sejak di bangku kuliah, sehingga memiliki fokus riset di berbagai sektor strategis, seperti kedaulatan ekonomi, transisi energi, ekonomi syariah, hukum siber, dan isu strategis lainya. Dari situlah HMI akan menjadi laboratorium intelektual dan menjadi pusat gagasan nasional. Ekosistem organisasi tidak melulu soal administrasi, melainkan upaya untuk melakukan “biotope” di mana kader bukan hanya belajar berorganisasi, tapi juga memiliki daya saing nyata terlebih menghadapi Indonesia Emas 2045.
Keempat, HMI harus memperbaharui paradigma aktivisme jalanan menuju aktivisme berbasis “Civic-Tech”, yaitu sebuah gerakan berbasis teknologi kewargaan. Selain itu, ia juga harus membangun sistem Open Data monitoring dengan menciptakan sistem dashboard untuk memantau penggunaan APBN, APBD, atau kebijakan pemerintah lainya secara real-time. Gerakan ini merupakan bentuk “perlawanan intelektual” yang berkualitas yang sulit dibantah oleh narasi kosong “olah-olah” yang tersebar di media sosial.
Pada akhirnya, HMI akan tetap menjadi “kawah candradimuka” jika ia terus berinovasi dan memperkuat ekosistemnya. Digital algoritma adalah tentang mengubah “massa organik” menjadi “massa digital” yang terorganisir. Jika dulu senjata HMI adalah pengeras suara di lapangan, sekarang adalah data, konten kreatif, dan penguasaan algoritma berbasis riset.
Sebaliknya, jika HMI tidak berbenah, maka ia akan menjadi netizen “akut” yang hanya mengonsusmsi digital algoritma dan menjadi organisasi “senjakala” yang kehilangan relevansinya di masa depan.
Selamat Milad HMI yang ke 79 –Yakin Usaha Sampai-
05/02/1947 – 05/02/2026
Berita terkait
Podi PGMI INISNU Temanggung Raih Akreditasi...
Seleknas 2025, Langkah Baru Lulusan Ma’arif...
LP Ma’arif NU Jateng Siapkan Sekolah...
INISNU Temanggung Teken MoU dan MoA...
Mahasiswa PGSD UST Pamerkan Karya Budaya...
Mahasiswa PGSD UST Tampilkan Karya Budaya...
Berita Terbaru
Program Speling Dokter Spesialis Sasar Desa...
Pemkab Kendal Gelar Safari Ramadhan di...