{"id":4730,"date":"2026-08-19T09:35:30","date_gmt":"2026-08-19T02:35:30","guid":{"rendered":"https:\/\/harianjateng.com\/?p=4730"},"modified":"2026-08-23T09:37:03","modified_gmt":"2026-08-23T02:37:03","slug":"kkn-unnes-desa-surojoyo-edukasi-bahaya-boraks-kenalkan-deteksi-sederhana-dengan-ekstrak-kunyit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/2026\/08\/19\/kkn-unnes-desa-surojoyo-edukasi-bahaya-boraks-kenalkan-deteksi-sederhana-dengan-ekstrak-kunyit\/","title":{"rendered":"KKN UNNES Desa Surojoyo Edukasi Bahaya Boraks, Kenalkan Deteksi Sederhana dengan Ekstrak Kunyit"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Wonosobo Harianjateng.com<\/strong> \u2014 Kelompok KKN UNNES Desa Surojoyo menggelar penyuluhan bertema \u201cEdukasi Bahaya Boraks dan Deteksi Sederhana pada Makanan Menggunakan Ekstrak Kunyit sebagai Indikator Alami\u201d pada Rabu, 19 Agustus 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di rumah Kepala Dusun Mudal, Dusun Mudal, RT 07\/RW 02, Desa Surojoyo, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kelompok KKN UNNES mengajak kader Posyandu, kader PKK, dan pelaku UMKM untuk mengikuti kegiatan tersebut. Para mahasiswa memberikan edukasi mengenai bahaya penggunaan boraks pada makanan sekaligus mempraktikkan cara sederhana menggunakan ekstrak kunyit sebagai indikator alami untuk pemeriksaan awal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Azizun, salah satu anggota pelaksana kegiatan, menjelaskan bahwa program kerja tersebut bertujuan memberikan cara yang mudah dipahami dan diterapkan masyarakat dalam mengenali makanan yang diduga mengandung boraks.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKami ingin memudahkan masyarakat, khususnya kader Posyandu, kader PKK, dan pelaku UMKM, agar mereka memiliki pengetahuan dasar untuk mengidentifikasi makanan yang diduga mengandung boraks melalui pemeriksaan sederhana menggunakan ekstrak kunyit,\u201d ujar Azizun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan bahwa boraks bukan merupakan bahan tambahan pangan dan tidak boleh digunakan untuk mengolah makanan. Penyalahgunaan boraks dapat membuat makanan memiliki tekstur yang lebih kenyal atau padat serta tampak lebih tahan lama. Namun, masyarakat tidak dapat memastikan kandungan boraks hanya berdasarkan ciri fisik makanan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Naila, anggota Kelompok KKN UNNES lainnya, menambahkan bahwa pihaknya memilih pendekatan praktik agar peserta dapat memahami materi dengan lebih mudah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKami menggunakan ekstrak kunyit sebagai media demonstrasi agar kader Posyandu, kader PKK, dan pelaku UMKM dapat melihat langsung proses pemeriksaan awal. Harapannya, mereka lebih mudah memahami pentingnya keamanan pangan dan dapat meneruskan pengetahuan tersebut kepada masyarakat,\u201d kata Naila.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para peserta kemudian mengamati demonstrasi penggunaan ekstrak kunyit pada sampel makanan. Mahasiswa menunjukkan tahapan pemeriksaan secara sederhana dan menjelaskan perubahan warna yang muncul sebagai bagian dari pemeriksaan awal. Pendekatan praktik membuat peserta tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga terlibat langsung dalam proses demonstrasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kelompok KKN UNNES juga menekankan bahwa pemeriksaan menggunakan ekstrak kunyit hanya berfungsi sebagai deteksi awal atau skrining sederhana. Masyarakat tidak dapat menjadikan perubahan warna sebagai bukti pasti adanya boraks. Untuk memastikan kandungan boraks, masyarakat tetap memerlukan pengujian menggunakan metode yang tepat dan, bila diperlukan, pemeriksaan laboratorium.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan berlangsung secara interaktif. Peserta menyampaikan pertanyaan mengenai bahaya boraks, ciri makanan yang perlu diwaspadai, serta cara melakukan pemeriksaan sederhana. Mahasiswa menjawab pertanyaan peserta dengan bahasa yang mudah dipahami dan menghubungkan materi dengan kondisi yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui kegiatan ini, Kelompok KKN UNNES berharap kader Posyandu dan PKK dapat menyebarkan informasi mengenai keamanan pangan kepada keluarga serta masyarakat di lingkungan sekitar. Sementara itu, pelaku UMKM diharapkan semakin memperhatikan keamanan bahan dan proses produksi sehingga mampu menghasilkan makanan yang aman dan berkualitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan edukasi tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN UNNES Desa Surojoyo dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai keamanan pangan. Dengan pengetahuan yang lebih baik, masyarakat diharapkan semakin kritis dalam memilih makanan, sedangkan pelaku UMKM dapat menerapkan praktik produksi yang aman dan bertanggung jawab.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wonosobo Harianjateng.com \u2014 Kelompok KKN UNNES Desa Surojoyo menggelar penyuluhan bertema \u201cEdukasi Bahaya Boraks dan Deteksi Sederhana pada Makanan Menggunakan Ekstrak Kunyit sebagai Indikator Alami\u201d pada Rabu, 19 Agustus 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di rumah Kepala Dusun Mudal, Dusun Mudal, RT 07\/RW 02, Desa Surojoyo, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo. Kelompok KKN UNNES mengajak kader Posyandu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4734,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,3],"tags":[1907,1906],"class_list":["post-4730","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-daerah","category-news","tag-kenalkan-deteksi-sederhana-dengan-ekstrak-kunyit","tag-kkn-unnes-desa-surojoyo-edukasi-bahaya-boraks"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4730"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4730\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4733,"href":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4730\/revisions\/4733"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4734"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/harianjateng.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}